BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Angka kematian
bagi bayi khususnya neonates merupakan indicator dalam menilai status kesehatan
masyarakat suatu bangsa dan kini digunakan juga sebagai ukuran untuk menilai
kualitas pengawasan antenatal.
Dalam 30 tahun
terakhir ini angka kematian bayi menurun dengan mencolok, tapi angka kematian
perinatal dalam 10 tahun terakhir kurang lebih menetap. Misi MPS (Making
Pregnancy Safer) di Indonesia tahun 2001 -2010 antara lain adalah menurunkan
angka kematian neonatal menjadi 16 per 1000 kelahiran hidup dari 77,3 -137,7 per 1000 (referrai hospital)
untuk mencapai sasaran tersebut. Intervensi yang sangat kritis adalah tersedianya tenaga penolong persalinan yang
terampil dan dapat memberikan pelayanan medic. Dengan adanya standar tersebut
para petugas kesehatan mengetahui kinerja apa yang diharapkan dari mereka apa
yang harus mereka lakukan pada setiap tingkat pelayanan, serta kompetensi apa
yang diperlukan.
Mengingat masa
neonatal / bayi baru lahir adalah masa penentu. Perkembangan dan pertumbuhan
bayi / anak selanjutnya serta di pelukan perhatian dan penanganan yang terpadu
dan berkesinambungan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Penilaian bayi baru lahir
• Keadaan
umum bayi dimulai 1 menit setelah lahir dengan penggunaan nilai APGAR.
Penilaian ini perlu untuk mengetahui apakah bayi menderita asfiksia atau tidak.
• Bila
nilai apgar dalam 2 menit belum mencapai nilai 7, maka harus dilakukan tindakan
resusitasi lebih lanjut. Bila bayi menderita asfiksia lebih dari 5 menit,
kemungkinan terjadi gejala-gejala neurologik lanjutan dikemudian hari lebih
besar.
|
Parameter
|
Nilai 0
|
Nilai 1
|
Nilai 2
|
Akronim
|
|
Warna kulit
|
Seluruhnya biru
|
Warna kulit tubuh normal merah
muda, tetapi tangan dan kaki kebiruan
|
Warna kulit tubuh, tangan dan
kaki normal merah muda, tidak ada sianosis
|
Appearance
|
|
Denyut Jantung
|
Tidak ada
|
<100 kali/menit
|
>100 kali/menit
|
Pulse
|
|
Respons Refleks
|
Tidak ada respons terhadap
stimulasi
|
Meringis/menangis lemah ketika
distimulasi
|
Meringis/bersin/batuk saat
stimulasi saluran napas
|
Grimace
|
|
Tonus Otot
|
Lemah / tidak ada
|
Sedikit gerakan
|
Bergerak aktif
|
Activity
|
|
Pernapasan
|
Tidak ada
|
Lemah atau tidak teratur
|
Menangis kuat, pernapasan baik dan teratur
|
Respiration
|
|
Jumlah skor
|
Interpretasi
|
Catatan
|
|
7 – 10
|
Bayi normal
|
|
|
4 – 6
|
Agak rendah (asfiksia
ringan-sedang)
|
Memerlukan tindakan medis segera
seperti penyedotan lendir yang menyumbat jalan napas, atau pemberian oksigen
untuk membantu bernapas
|
|
0 – 3
|
Sangat rendah (asfiksia berat)
|
Memerlukan tindakan medis yang
lebih intensif
|
Tujuan tes APGAR adalah untuk menentukan dengan cepat apakah
bayi yang baru lahir tersebut membutuhkan penanganan medis segera.
Penilaian Bayi Baru Lahir
:
• Apakah
kehamilan cukup bulan ?
• Apakah
air ketuban jernih dan tidak terkontaminasi mekonium ?
• Apakah
bayi bernapas adekuat atau menangis ?
• Apakah
tonus otot bayi baik ?
Bila semua pertanyaan diatas
dijawab dengan “ya”, lakukan perawatan rutin (memberikan kehangatan,
mengeringkan, membersihakan jalan napas, dll.)
Bila salah satu atau lebih
pertanyaan di jawab “tidak”, lakukan langkah awal resusitasi.
B. Perawatan Bayi Baru Lahir
Perawatan bayi
baru lahir meliputi :
1.
Pencegahan infeksi
Bayi baru lahir sangat rentan
terhadap infeksi mikroorganisme selama proses persalinan berlangsung maupun
beberapa saat segera setelah bayi lahir.
• Cara
pencegahan infeksi adalah sebagai berikut: cuci tangan sebelum dan sesudah
bersentuhan dengan bayi; memakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi;
memastikan peralatan yang digunakan steril; dan memastikan semua pakaian maupun
perlengkapan bayi dalam keadaan bersih.
2.
Menjaga bayi agar tetap hangat
Langkah awal dalam menjaga bayi
agat etap hangat adalah dengan menyelimuti bayi sesegera mungkin sesudah lahir.
Lalu tunda memandikan bayi selama setidaknya 6 jam atau sampai bayi stabil
untuk mencegah hipotetmi
3.
Membersihkan saluran nafas
Saluran nafas di bersihkan dengan
cara menghisap lendir yang ada di mulut dan hidung. Namun, hal ini hanya
dilakukan jika diperlukan. Tindakan ini juga dilakukan sekaligus dengan
penilaian APGAR score di menit pertama. Bayi normal akan menangis spontan
segera lahir. Apabila bayi tidak langsung menangis, jalan napas segera di
bersihkan.
4.
Mengeringkan tubuh bayi
Tubuh bayi dikeringkan dari cairan
ketuban dengan menggunakan kain atau handuk yang kering, bersih, dan halus.
Mengeringkan tubuh bayi juga merupakan tindakan stimulasi. Untuk bayi yang sehat,
hal ini biasanya cukup untuk merangsang terjadinya pernapasan spontan. Jika
bayi tidak memberikan respon serta menunjukan tanda tanda kegawatan, segera
lakukan tindakan untuk membantu pernapasan
Tubuh bayi dikeringkan mulai dari
muka, kepala, dan bagian tubuh lainnya dengan lembut tanpa menghilangkan
verniks. Verniks akan membantu menyamankan dan menghangatkan bayi. Setelah di
keringkan, selimuti bayi dengan kain kering untuk menunggu 2 menit sebelum tali
pusat di klem. Hindari mengeringkan punggung tangan bayi. Bau cairan amnion
padatangan bayi membantu bayi mencari putting ibunya yang berbau sama.
5.
Memotong dan mengikat tali pusat
• Ketika
memotong dan mengikat tali pusat, teknik aseptik dan antiseptik harus di
perhatikan.
• Perhatikan
tanda – tanda infeksi tali pusat :
Ø Kemerahan
pada kulit sekitar tali pusat
Ø Tampak
nanah atau berbau
Jika terdapat tanda infeksi,
nasehati ibu untuk membawa bayinya ke fasilitas kesehatan
6.
Inisiasi menyusui dini (IMD)
Prinsip pemberian ASI adalah
dimulai sedini mungkin, pemberian ASI pertama kali dapat dilakukan setelah tali
pusat bayi dipotong dan diikat.
• Langkah
Inisiasi Menyusui Dini pada BBL :
Ø lakukan kontak kulit ibu dengan kulit bayi
selama paling sedikit 1 jam
Ø biarkan bayi mencari dan menemukan puting ibu
dan mulai menyusu
7.
memberikan identitas diri
Segera setelah IMD bayi baru lahir
di fasilitas kesehatan segera mendapatkan tanda pengenal berupa gelang yang
dikenakan pada bayi dan ibunya untuk menhidari tertukarnya bayi. Gelang
pengenal tersebut beisi identitas nama ibu dan ayah, tanggal, jam lahir, dan
jenis kelamin.
Apabila fasilitas memungkinkan,
dilakukan juga pembuatan cap telapak kaki bayi pada rekam medis kelahiran dan
surat keterangan lahir untuk digunakan orang tua dalam memperoleh akte
kelahiran bayi
8.
Memberikan suntikan vit k1
Karena sistem pembekuan darah pada
BBL belum sempurna, semua BBL beresiko mengalami perdarahan. Untuk mencegah
terjadi perdarahan, pada semua BBL terutama BBLR di berikan suntikan Vit.
K1(phytomenadione) sebanyak 1mg dosis tunggal IM pada anterolateral paha kiri.
9.
Memberikan salep mata antibiotik
Salep mata antibiotik diberikan
untuk mencegah terjadinya infeksi pada mata. Salep ini sebaiknya diberikan 1
jam setelah lahir. Salep mata antibiotik yang bisa digunakan tetrasiklin 1%
10.
Memberikan imunisasi
Imunisasi hepatitis B pertama
(HB-0) diberikan 1- 2 jam setelah pemberikan vit. K1 secara IM. Imunisasi
hepatitis B bermanfaat untuk mencegah infeksi hepatitis B terhadap bayi ,
terutama jalur penularan ibu-bayi
11.
Melakukan Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan atau pengkajian fisik
pada BBL dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat kelainan yang perlu
mendapat tindakan segera.
Prosedur pemeriksaan fisik pada
bayi baru lahir antara lain adalah sebagai berikut :
a.
Menginformasikan prosedur dan meminta
persetujuan orang tua
b.
Mencuci tangan dan mengeringkannya ; jika perlu,
gunakan sarung tangan
c.
Memastikan penerangan cukup dan hanagat untuk
bayi
d.
Memeriksa secara sistematis head to toe
e.
Mengidentifikasi warna kulit dan aktivitas bayi
f.
Mencatat miksi dan meconium bayi
g.
Mengukur Lingkar Kepala (LK), Lingkar Dada
(LD),Lingkar Perut(LP), Lingakar Lengan Atas (LILA), dan Panjang Badan (PB)
serta timbang Berat Badan (BB) bayi
h.
Mendiskusikan hasil pemeriksaan kepaada orang
tua
i.
Mendokumentasikan hasil pemeriksaan
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
• Keadaan
umum bayi dimulai 1 menit setelah lahir dengan penggunaan nilai APGAR.
Penilaian ini perlu untuk mengetahui apakah bayi menderita asfiksia atau tidak.
Tujuan tes APGAR adalah untuk menentukan dengan cepat apakah bayi yang baru
lahir tersebut membutuhkan penanganan medis segera.
• Perawatan
utama bayi baru lahir mencangkup pencegahan infeksi, menjaga bayi agar tetap
hangat,membersihkan saluran napas (hanya jika perlu), mengeringkan tubuh bayi,
memantau tanda bahaya, memotong dan mengikat tali pusat,melakukan inisiasi
menyusui dini (IMD), memberikan suntikan vitamin K1, memberin salep mata
antibiotic, memberi imunisasi hepatitis B, serta melakukan pemeriksaan fisik.
DAFTAR PUSTAKA
Dewi, Vivian Nanny Lia. 2010.
Asuhan Neonatus, Bayi, dan Anak Balita. Jakarta: Penerbit Salemba Medika
Jitowiyono, Sugeng dan Weni
Kristiyanasari. Asuhan keperawatan neonates dan Anak. Yogyakarta: Nuha medika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar