BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sebagai salah satu orang yang
menggeluti dunia kewanitaan sudah sepatutnya kami sebagai mahasiswa memahami
apa yang berubah dan apa yang harus dipertahankan dalam masa kehamilan. Proses
perubahan itu sendiri memiliki fase-fase yang berbeda,baik dari fase yang
dianggap ringan ataupun yang mungkin dianggap oleh ibu hami merupakan satu dari
berbagai fase yang membuatnya merasa perlu diberikan perawatan atau asuhan yang
sesuai.
Dengan memahami apa yang terjadi
kepada ibu hamil selama masa kehamilan,sebagai salah satu partner dalam
menjalani masa kehamilan kami akan dapat memberikan apa yang mereka butuhkan
dari kami sesuai indikasi kebutuhan yang telah diketahui.
B.
TUJUAN
PENULISAN
1.
Memahai
proses fertilisasi dan implantasi
2.
Memahami
struktur dan fungsi amnion
3.
Memahami
sirkulasi amnion
4.
Memahani
fungsi dan struktur plasenta
5.
Memahami
sirkulasi darag fetus
6.
Menentukan
usia kehamilan
BAB
II
PEMBAHASAN
1. Memahami
Proses Fertilisasi dan Implantasi
Fertilitasi
adalah suatu peristiwa penyatuan antara sel mani/sperma dengan sel telur di
tuba falopi. Pada kopulasi antara pria dan wanita (sanggama/coitus), dengan
ejakulasi sperma dari saluran reproduksi pria di dalam vagina wanita, akan
dilepaskan cairan mani yang berisi sel-sel sperma ke dalam saluran reproduksi
wanita. Jika sanggama terjadi dalam sekitar masa ovulasi (disebut “masa
subur”wanita), maka ada kemungkinan sel sperma dalam saluran reproduksi wanita
akan bertemu dengan sel telur wanita yang baru dikeluarkan pada saat ovulasi.
Untuk menentukan masa subur, dipakai 3 patokan, yaitu: ovulasi terjadi 14 ± 2
hari sebelum haid yang akan datang, sperma dapat hidup dan membuahi dalam 48
jam setelah ejakulasi, ovum dapat hidup 24 jam setelah ovulasi. Pertemuan/penyatuan
sel sperma dengan sel telur inilah yang disebut sebagai pembuahan atau
fertilisasi. Dalam keadaan normalin vivo, pembuahan terjadi didaerah tuba
falopii umumnya di daerah ampula/infundibulum. Perkembangan teknologi kini
memungkinkan penatalaksanaan kasus infertilitas (tidak bisa mempunyai anak)
dengancara mengambil oosit wanita dan dibuahi dengan sperma pria di luar tubuh,
kemudian setelah terbentuk embrio, embrio tersebut dimasukan kembali ke dalam
rahim untuk pertumbuhan selanjutnya. Teknik ini disebut sebagai pembuahan in
vitro (in vitro fertilization – IVF) – dalam istilah awam bayi tabung
(Prawirohardjo, 1999).
a) Proses
fertilisasi
Spermatozoa
bergerak cepat dari vagina ke dalam rahim, masuk ke dalam tuba. Gerakan ini
mungkin dipengaruhi juga oleh peranan kontaksi miometrium dan dinding tuba yang
juga terjadi saat sanggama. Ovum yang dikeluarkan oleh ovarium, ditangkap oleh
fimbrae dengan umbai pada ujung proksimalnya dan dibawa ke dalam tuba falopii.
Ovum yang dikelilingi oleh perivitelina, diselubangi oleh bahan opak setebal
5-10 µm, yang disebut zona pelusida. Sekali ovum sudah dikeluarkan, folikel
akan mengempis dan berubah menjadi kuning, membentuk korpus luteum. Sekarang
ovum siap dibuahi apabila sperma mencapainya. Dari 60 – 100 juta sperma
diejakulasikan ke dalam vagina pada saat ovulasi, beberapa juta berhasil
menerobos saluran heliks di dalam mukus serviks dan mencapai rongga uterus
beberapa ratus sperma dapat melewati pintu masuk tuba falopii yang sempit dan
beberapa diantaranya dapat bertahan hidup sampai mencapai ovum di ujung fibrae
tuba falopii. Hal ini disebabkan karena selama beberapa jam, protein plasma dan
likoprotein yang berada dalam cairan mani diluruhkan. Reaksi ini disebut reaksi
kapasitasi. Setelah reaksi kapasitasi, sperma mengalami reaksi akrosom, terjadi
setelah sperma dekat dengan oosit. Sel sperma yang telah menjalani kapasitasi
akan terpengaruh oleh zat – zat dari korona radiata ovum, sehingga isi akrosom
dari daerah kepala sperma akan terlepas dan berkontrak dengan lapisan korona
radiata. Pada saat ini dilepaskan hialuronidase yang dapat melarutkan korona
radiata, trypsine – like agent dan lysine – zone yang dapat melarutkan dan
membantu spema melewati zona pelusida untuk mencapai ovum. Hanya satu sperma
yang memiliki kemampuan untuk membuahi, karena sperma tersebut memiliki
konsentrasi DNA yang tinggi di nukleuasnya, dan kaputnya lebih mudah menembus
kerena diduga dapat melepaskan hialuronidase. Sekali sebuah spermatozoa
menyentuh zona pelusida, terjadi perlekatan yang kuat dan penembusan yang
sangat cepat. Setelah itu terjadi reaksi khusus di zona pelusida (zone
reaction) yang bertujuan mencegah terjadinya penembusan lagi oleh sperma
lainnya. Dengan demikian, sangat jarang sekali terjadi penembusan zona oleh lebih
dari satu sperma. (prawirohardjo, 1999)
b) Pada
saat sperma mencapai oosit, terjadi :
Reaksi zona/reaksi kortikal
pada selaput zona pelusida oosit menyelesaikan pembelahan miosis keduanya,
menghasilkan oosit definitif yang kemudian menjadi pronukleus wanita, inti
sperma membesar membentuk pronukleus pria, ekor sel sperma terlepas dan
berdegenerasi, pronukleus pria dan wanita. Masing-masing haploid, bersatu dan
membentuk zyangot yang memiliki jumlah DNA genap/diploid.
Hasil utama pembuahan:
1)
Penggenapan
kembali jumlah kromosom dari penggabungan dua paruh haploid dari ayah dan dari
ibu menjadi suatu bakal baru dengan jumlah kromosom diplid.
2)
Penentuan
jenis kelamin bakal induvidu baru, tergantung dari kromosom X dan Y
Yang dikandung sperma yang membuahi ovum tersebut.
3)
Pemulaan
pembelahan dan stadium – stadium pembentukan dan perkembangan embrio
(embriogenesis).
c) Proses
Implantasi
implantasi
atau nidasi adalah masuknya atau tertanamnya hasil konsepsi ke dalam
endometrium. Pada akhir minggu pertama (hari ke 5 sampai ke 7) zyangot mencapai
cavum uteri. Pada saat itu uterus sedang berada dalam fase sekresi lendir
dibawah pengaruh progesteron dari korpus luteum yang masih aktif. Sehingga
lapisan endometrium dinding rahim menjadi kaya pembuluh darah dan banyak muara
kelenjar selaput lendir rahim yang terbuka dan aktif. Kontak antara zigot
stadium blastokista dengan dinding rahim pada keadaan tersebut akan mencetuskan
berbagai reaksi seluler, sehingga sel –sel trofoblast zigot tersebut akan
menempel dan mengadakan infiltrasi pada lapisan epitel endometrium uterus
(terjadi implantasi). Setelah implantasi, sel –sel trofoblas yang tertanam di dalam
endometrium terus berkembang membentuk jaringan bersama dengan sistem pembuluh
darah maternal untuk menjadi plasenta, yang kemudian berfungsi sebagai sumber
nutrisi dan oksigenasi bagi jaringan embrioblas yang akan tumbuh menjadi janin.
2. Struktur
dan Fungsi amnion
a) Struktur
Amnion
Mula-mula
ruangan amnion merupakan rongga kecil, tapi kemudian meneglilingi seluruh
janin. Akhirnya amnion merapat pada chorion dan melekat dengannya. Amnion ikut
membentuk selaput janin yang terdiri dari lapisan amnion, mesoderm, chorion,
dan lapisan tipis dari desidua.
Ciri
kimiawi liquor amnii: jumlahnya pada kehamilan aterm ±1000-1500 cc, berwarna
putih keruh, berbau amis, berasam manis, reaksinya agak alkalis/netral.
Komposisinya : air, albumin, urea, asam urik, kreatinin, sel-sel epitel, rambut
lanugo, verniks kaseosa, garam anorganik.
Amnion
berkembang dari delaminasi sititrofoblas sekitar hari ke 7 atau ke 8
perkembangan ovum normal atau pada dasarnya berkembang sebagai eksitensi dari
ekstoderm janin. Dimulai sebagai vesikel kecil, amnion berkembang menjadi
sebuah kantong kecil yang menutupi permukaan dorsal embrio. Ketika amnion
membesar, perlahan-lahan kantong ini meliputi embrio yang sedang berkembang
yang akan proplaps kerongganya. Distensi kantong amnion akhirnya mengakibatkan
kantong tersebut menempel dengan bagian interior korion. Amnion dan korion,
walaupun sedikit menempel tidak pernah berhubungan erat dan biasanya dapat
dipisahkan dengan mudah bahkan pada waktu aterm.
Amnion
normal mempunyai tebal 0,02-0,5 mm. Menurut Bourne (1962), terdapat lima
lapisan yang terdiri dari (dari dalam keluar) epithelium, membrane basal,
lapisan kompakta, lapisan fibrio-bals-tic dan lapisan spongiosum.
Volume
rata-rata yaitu 1 liter, banyaknya dapat berbeda-beda, pada minggu ke 36
banyaknya 1030 cc, minggu ke 40 banyaknya 790 cc dan pada minggu ke 43 sudah
berkurang menjadi 240 cc. Jika banyaknya lebih dari 2 liter dinamakan
Polyhidramnion atau Hidramnion kalau terlalu sedikit kurang dari 500 cc disebut
Oligohidramnion (Prawirohardjo,1999).
b) Fungsi
amnion
a. Melindungi janin terhadap
trauma dari luar
b. Memungkinkan janji bergerak
dengan bebas
c. Melindungi suhu tubuh janin
d. Meratakan tekanan di dalam
uterus pada partus, sehingga serviksnya
membuka
e. Membersihkan jalan lahir jika
ketuban pecah dengan cairan yang steril
3. Struktur
dan Fungsi Plasenta
Plasenta terdiri dari :
a. Jaringan anak : Chorion/villi chorialis dan
pembuluh darahnya,
b. Jaringan pada ibu : sel-sel decidua basalis.
c.
Hormon yang dihasilkan
plasenta : Human Chorionic Gonadotropin (HCG); Chorionic Somatomamotropin
(placental Lactogen), Esterogen, Progesteron, Tirotropin Korionik dan Relaksin
.
Fungsi Plasenta :
a.
Nutrisasi : alat pemberi makanan pada janin
b.
Respirasi:
alat penyalur zat asam dan pembuangan CO2
c.
Ekresi:
alat pengeluaran sampah metabolism
d.
Produksi:
alat menghasilkan hormon-hormon
e.
Imunisasi: alat penyalur bermacam macam antibodi ke janin
f.
Pertahanan: alat penyaring obat-obatan dan kuman-kuman yang bisa
melewati uri
4.
Sirkulasi Darah Fetus
Sistem sirkulasi darah janin yaitu : Foramen Ovale,
ductus arteriosus botalli, ductus venosus arantii, darah yang kaya O2
dan nutrisi berasal dari uri masuk ke tubuh melalui vena umbilikalis, melalui
ductus venosus arantii sebagian besar darah tersebut mengalir ke vena cava
inferior lalu masuk ke atrium kiri melalui foramen ovale, Dari atrium kiri
menuju ventrikel kiri kemudian dipompakan ke aorta, hanya sebagian kecil darah
dari atrium kanan mengalir ke vena cava superior, karena tekanan paru-paru yang
belum berkembang, darah dari ventrikel kanan yang semestinya mengalir ke
paru-paru melalui arteri pulmonalis akan mengalir melalui ductus botalli ke
aorta, sebagian kecil darah menuju paru-paru kemudian melalui vena pulmonalis
ke atrium kiri, dari aorta darah akan mengalir ke seluruh tubuh membawa O2
dan nutrisi, Setelah bayi lahir ia segera menangis dan menghirup udara yang
menyebabkan paru-parunya berkembang sehingga ductus botalli,foramen
ovale,arteri umblicalis,ductus arantii tidak berfungsi lagi (Prawirohardjo,
1999) .
5.
Menentukan Usia Kehamilan
a) Metode
Kalender
Adalah metode yang seringkali
dipergunakan oleh tenaga kesehatan dilapangan perhitungannya sesuai dengan
rumus yang rekomendasikan dari Neagle yaitu dihitung dari tanggal haid terakhir
hari ditambah 7, bulan ditambah 9/dikurang 3, tahun ditambah 1/tidak.
Contohnya: hari pertama haid
normal, 2 Februari (2 bulan); tambahkan angka 7 pada hari dan 9 pada bulan
untuk menentukan perkiraan tanggal persalinan, yaitu 9 November (11 bulan)
(pada tahun yang sama).
Haid pertama haid normal
terakhir, 27 September (9 bulan); tambahkan angka 7 pada hari dan 9 pada bulan
untuk menentukan perkiraan tanggal persalinan, yaitu 4 Juli (7 bulan) (pada
tahun berikutnya) (Farrer, 2001).
Dibawah ini akan diberikan
contoh lain: HPHT Ny. E tgl 23-08-08 datang ke klinik pada tanggal 08-01-09.
Berapa usia kehamilannya?
Diket: hari pertama haid
terakhir (HPHT) : 23-08-08
7-3+1
Jadi hasil taksiran persalinan
(TP) : 30-05-09
Uraiannya ibu datang tanggal :
08-01-09 untuk menentukan umur kehamilan adalah: Jawab: Taksiran Persalinan:
30-05-09 dikurangi tanggal datang: 08-01-09, hasilnya: 22 hari 4 bulan = 19
minggu 1 hari, 39 minggu, 7 hari dikurangi 19 minggu-1 hari = 20 minggu 6 hari
jadi usia kehamilan Ny. E adalah 20 minggu lebih 6 hari.
b) Quickening
(goyang anak)
Kadang-kadang riwayat haid
tidak pasti, terutama kalau wanita hamil itu tidak ingat tanggalnya, baru saja
menghentikan pemakaian kontrasepsi oral atau kehamilan terjadinya sebelumnya
haidnya kembali setelah kehamilan sebelumnya. Pada kasus-kasus semacam ini,
kita harus menanyakan saat ini merasakan quickening (gerakan anak yang terasa
pertama kali) dan kemudian mencatat tanggalnya. Tanggal atau saat quickening
kemudian ditambah 5 bulan kalender agar kita dapat memperoleh tanggal perkiraan
persalinan (Farrer, 2001). Atau ditambahkan 4,5 bulan dari waktu ibu merasakan
gerakan janin hidup “feeling life” (Quickening) (Prawirohardjo, 1999).
c) Tinggi
Fundus
Menentukan umur kehamilan
dilihat dari Tinggi Fundus Uteri (TFU) menurut Spiegelberg:
22-28 minggu : 24-25 cm diatas
simfisis
28 minggu : 26,7 cm diatas simfisis
30 minggu : 29,5-30 cm diatas simfisis
32 minggu : 29,5-30 cm diatas simfisis
34 minggu : 31 cm diatas simfisis
36 minggu : 32 cm diatas simfisis
38 minggu : 33 cm diatas simfisis
40 minggu : 37,7 cm diatas simfisis (Prawirohardjo, 1999)
|
Tinggi Fundus Berdasarkan Usia
Kehamilan
|
|
Usia kehamilan
|
Tinggi Fundus
|
|
|
Dalam cm
|
Menggunakan penunjuk badan
|
|
|
12 minggu
|
-
|
teraba di atas simfisis
pubis
|
|
16 minggu
|
-
|
di tengah antara
simfisis pubis dan umbilikus
|
|
20 minggu
|
20 cm (±2 cm)
|
pada umbilikus
|
|
22-27 minggu
|
usia kehamilan dalam
minggu = cm (±2 cm)
|
-
|
|
28 minggu
|
28 cm (±2cm)
|
ditengah antara
umbilikus dan prosesus sifoideus.
|
|
29-35 minggu
|
usia kehamilan dalam
minggu = cm (±2 cm)
|
-
|
|
36 minggu
|
36 cm (±2 cm)
|
pada prosesus
sifoideus
|
d) Pemeriksaan
Radiologi
Pemeriksaan sinar X akan
memperlihatkan osifikasi berbagai bagian skeleton janin dari sejak usia
kehamilan 16 minggu. Namun demikian, pemeriksaan ini hampir tidak penuh
dilakukan untuk menilai usia kehamilan mengingat bahaya yang ditimbulkannya
(Farrer, 2001).
e) Pemeriksaan
USG
Kantong janin dapat dilihat
pada usia kehamilan 6-7 minggu dan kepala janin dapat diukur pada usia 13
minggu dengan menggunakan USG (pemantulan gelombang suara frekuensi tinggi
dengan panjang gelombang yang pendek). Pemeriksaan USG kini sudah menggantikan
peranan sinar X dalam menilai maturitas janin (Farrer, 2001).
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dengan memahami proses adapatasi yang
terjadi pada ibu hamil kami dapat menentukan apa asuhan yang harus diberikan
kepada ibu hamil sesuai dengan indikasi yang dialami oleh ibu hamil sendiri.
Dan dengan berbagai metode pemeriksaan yang digunakan kami juga dapat
menentukan apa tindakan yang harus dilakukan selama masa kehamilan.
B. SARAN
1.
Memberikan
pemahaman yang benar kepada ibu hamil dalam mengalami adaptasi
2.
Memberikan
penkes kepada ibu hamil mengenai apa yang dibutuhkan selama masa kehamilan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar