Sabtu, 07 Oktober 2017

MAKALAH KEHAMILAN



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Sebagai salah satu orang yang menggeluti dunia kewanitaan sudah sepatutnya kami sebagai mahasiswa memahami apa yang berubah dan apa yang harus dipertahankan dalam masa kehamilan. Proses perubahan itu sendiri memiliki fase-fase yang berbeda,baik dari fase yang dianggap ringan ataupun yang mungkin dianggap oleh ibu hami merupakan satu dari berbagai fase yang membuatnya merasa perlu diberikan perawatan atau asuhan yang sesuai.
Dengan memahami apa yang terjadi kepada ibu hamil selama masa kehamilan,sebagai salah satu partner dalam menjalani masa kehamilan kami akan dapat memberikan apa yang mereka butuhkan dari kami sesuai indikasi kebutuhan yang telah diketahui.

B.    TUJUAN PENULISAN
1.    Memahai proses fertilisasi dan implantasi
2.    Memahami struktur dan fungsi amnion
3.    Memahami sirkulasi amnion
4.    Memahani fungsi dan struktur plasenta
5.    Memahami sirkulasi darag fetus
6.    Menentukan usia kehamilan









BAB II
PEMBAHASAN
1.    Memahami Proses Fertilisasi dan Implantasi
Fertilitasi adalah suatu peristiwa penyatuan antara sel mani/sperma dengan sel telur di tuba falopi. Pada kopulasi antara pria dan wanita (sanggama/coitus), dengan ejakulasi sperma dari saluran reproduksi pria di dalam vagina wanita, akan dilepaskan cairan mani yang berisi sel-sel sperma ke dalam saluran reproduksi wanita. Jika sanggama terjadi dalam sekitar masa ovulasi (disebut “masa subur”wanita), maka ada kemungkinan sel sperma dalam saluran reproduksi wanita akan bertemu dengan sel telur wanita yang baru dikeluarkan pada saat ovulasi. Untuk menentukan masa subur, dipakai 3 patokan, yaitu: ovulasi terjadi 14 ± 2 hari sebelum haid yang akan datang, sperma dapat hidup dan membuahi dalam 48 jam setelah ejakulasi, ovum dapat hidup 24 jam setelah ovulasi. Pertemuan/penyatuan sel sperma dengan sel telur inilah yang disebut sebagai pembuahan atau fertilisasi. Dalam keadaan normalin vivo, pembuahan terjadi didaerah tuba falopii umumnya di daerah ampula/infundibulum. Perkembangan teknologi kini memungkinkan penatalaksanaan kasus infertilitas (tidak bisa mempunyai anak) dengancara mengambil oosit wanita dan dibuahi dengan sperma pria di luar tubuh, kemudian setelah terbentuk embrio, embrio tersebut dimasukan kembali ke dalam rahim untuk pertumbuhan selanjutnya. Teknik ini disebut sebagai pembuahan in vitro (in vitro fertilization – IVF) – dalam istilah awam bayi tabung (Prawirohardjo, 1999).
a)    Proses fertilisasi
Spermatozoa bergerak cepat dari vagina ke dalam rahim, masuk ke dalam tuba. Gerakan ini mungkin dipengaruhi juga oleh peranan kontaksi miometrium dan dinding tuba yang juga terjadi saat sanggama. Ovum yang dikeluarkan oleh ovarium, ditangkap oleh fimbrae dengan umbai pada ujung proksimalnya dan dibawa ke dalam tuba falopii. Ovum yang dikelilingi oleh perivitelina, diselubangi oleh bahan opak setebal 5-10 µm, yang disebut zona pelusida. Sekali ovum sudah dikeluarkan, folikel akan mengempis dan berubah menjadi kuning, membentuk korpus luteum. Sekarang ovum siap dibuahi apabila sperma mencapainya. Dari 60 – 100 juta sperma diejakulasikan ke dalam vagina pada saat ovulasi, beberapa juta berhasil menerobos saluran heliks di dalam mukus serviks dan mencapai rongga uterus beberapa ratus sperma dapat melewati pintu masuk tuba falopii yang sempit dan beberapa diantaranya dapat bertahan hidup sampai mencapai ovum di ujung fibrae tuba falopii. Hal ini disebabkan karena selama beberapa jam, protein plasma dan likoprotein yang berada dalam cairan mani diluruhkan. Reaksi ini disebut reaksi kapasitasi. Setelah reaksi kapasitasi, sperma mengalami reaksi akrosom, terjadi setelah sperma dekat dengan oosit. Sel sperma yang telah menjalani kapasitasi akan terpengaruh oleh zat – zat dari korona radiata ovum, sehingga isi akrosom dari daerah kepala sperma akan terlepas dan berkontrak dengan lapisan korona radiata. Pada saat ini dilepaskan hialuronidase yang dapat melarutkan korona radiata, trypsine – like agent dan lysine – zone yang dapat melarutkan dan membantu spema melewati zona pelusida untuk mencapai ovum. Hanya satu sperma yang memiliki kemampuan untuk membuahi, karena sperma tersebut memiliki konsentrasi DNA yang tinggi di nukleuasnya, dan kaputnya lebih mudah menembus kerena diduga dapat melepaskan hialuronidase. Sekali sebuah spermatozoa menyentuh zona pelusida, terjadi perlekatan yang kuat dan penembusan yang sangat cepat. Setelah itu terjadi reaksi khusus di zona pelusida (zone reaction) yang bertujuan mencegah terjadinya penembusan lagi oleh sperma lainnya. Dengan demikian, sangat jarang sekali terjadi penembusan zona oleh lebih dari satu sperma. (prawirohardjo, 1999)
b)    Pada saat sperma mencapai oosit, terjadi :
Reaksi zona/reaksi kortikal pada selaput zona pelusida oosit menyelesaikan pembelahan miosis keduanya, menghasilkan oosit definitif yang kemudian menjadi pronukleus wanita, inti sperma membesar membentuk pronukleus pria, ekor sel sperma terlepas dan berdegenerasi, pronukleus pria dan wanita. Masing-masing haploid, bersatu dan membentuk zyangot yang memiliki jumlah DNA genap/diploid.
Hasil utama pembuahan:
1)    Penggenapan kembali jumlah kromosom dari penggabungan dua paruh haploid dari ayah dan dari ibu menjadi suatu bakal baru dengan jumlah kromosom diplid.
2)    Penentuan jenis kelamin bakal induvidu baru, tergantung dari kromosom X dan Y
Yang dikandung sperma yang membuahi ovum tersebut.
3)    Pemulaan pembelahan dan stadium – stadium pembentukan dan perkembangan embrio (embriogenesis).
c)    Proses Implantasi
implantasi atau nidasi adalah masuknya atau tertanamnya hasil konsepsi ke dalam endometrium. Pada akhir minggu pertama (hari ke 5 sampai ke 7) zyangot mencapai cavum uteri. Pada saat itu uterus sedang berada dalam fase sekresi lendir dibawah pengaruh progesteron dari korpus luteum yang masih aktif. Sehingga lapisan endometrium dinding rahim menjadi kaya pembuluh darah dan banyak muara kelenjar selaput lendir rahim yang terbuka dan aktif. Kontak antara zigot stadium blastokista dengan dinding rahim pada keadaan tersebut akan mencetuskan berbagai reaksi seluler, sehingga sel –sel trofoblast zigot tersebut akan menempel dan mengadakan infiltrasi pada lapisan epitel endometrium uterus (terjadi implantasi). Setelah implantasi, sel –sel trofoblas yang tertanam di dalam endometrium terus berkembang membentuk jaringan bersama dengan sistem pembuluh darah maternal untuk menjadi plasenta, yang kemudian berfungsi sebagai sumber nutrisi dan oksigenasi bagi jaringan embrioblas yang akan tumbuh menjadi janin.
2.    Struktur dan Fungsi amnion
a)    Struktur Amnion
Mula-mula ruangan amnion merupakan rongga kecil, tapi kemudian meneglilingi seluruh janin. Akhirnya amnion merapat pada chorion dan melekat dengannya. Amnion ikut membentuk selaput janin yang terdiri dari lapisan amnion, mesoderm, chorion, dan lapisan tipis dari desidua.
Ciri kimiawi liquor amnii: jumlahnya pada kehamilan aterm ±1000-1500 cc, berwarna putih keruh, berbau amis, berasam manis, reaksinya agak alkalis/netral. Komposisinya : air, albumin, urea, asam urik, kreatinin, sel-sel epitel, rambut lanugo, verniks kaseosa, garam anorganik.
Amnion berkembang dari delaminasi sititrofoblas sekitar hari ke 7 atau ke 8 perkembangan ovum normal atau pada dasarnya berkembang sebagai eksitensi dari ekstoderm janin. Dimulai sebagai vesikel kecil, amnion berkembang menjadi sebuah kantong kecil yang menutupi permukaan dorsal embrio. Ketika amnion membesar, perlahan-lahan kantong ini meliputi embrio yang sedang berkembang yang akan proplaps kerongganya. Distensi kantong amnion akhirnya mengakibatkan kantong tersebut menempel dengan bagian interior korion. Amnion dan korion, walaupun sedikit menempel tidak pernah berhubungan erat dan biasanya dapat dipisahkan dengan mudah bahkan pada waktu aterm.
Amnion normal mempunyai tebal 0,02-0,5 mm. Menurut Bourne (1962), terdapat lima lapisan yang terdiri dari (dari dalam keluar) epithelium, membrane basal, lapisan kompakta, lapisan fibrio-bals-tic dan lapisan spongiosum.
Volume rata-rata yaitu 1 liter, banyaknya dapat berbeda-beda, pada minggu ke 36 banyaknya 1030 cc, minggu ke 40 banyaknya 790 cc dan pada minggu ke 43 sudah berkurang menjadi 240 cc. Jika banyaknya lebih dari 2 liter dinamakan Polyhidramnion atau Hidramnion kalau terlalu sedikit kurang dari 500 cc disebut Oligohidramnion (Prawirohardjo,1999).
b)    Fungsi amnion
a.    Melindungi janin terhadap trauma dari luar
b.    Memungkinkan janji bergerak dengan bebas
c.    Melindungi suhu tubuh janin
d.    Meratakan tekanan di dalam uterus  pada partus, sehingga serviksnya membuka
e.    Membersihkan jalan lahir jika ketuban pecah dengan cairan yang steril
3.    Struktur dan Fungsi Plasenta
Plasenta terdiri dari :
a.    Jaringan anak : Chorion/villi chorialis dan pembuluh darahnya,
b.    Jaringan pada ibu : sel-sel decidua basalis.
c.    Hormon yang dihasilkan plasenta : Human Chorionic Gonadotropin (HCG); Chorionic Somatomamotropin (placental Lactogen), Esterogen, Progesteron, Tirotropin Korionik dan Relaksin .
Fungsi Plasenta :
a.    Nutrisasi : alat pemberi makanan pada janin
b.     Respirasi: alat penyalur zat asam dan pembuangan CO2
c.     Ekresi: alat pengeluaran sampah metabolism
d.     Produksi: alat menghasilkan hormon-hormon
e.    Imunisasi: alat penyalur bermacam macam antibodi ke janin
f.     Pertahanan: alat penyaring obat-obatan dan kuman-kuman yang bisa melewati uri

4.    Sirkulasi Darah Fetus
Sistem sirkulasi darah janin yaitu : Foramen Ovale, ductus arteriosus botalli, ductus venosus arantii, darah yang kaya O2 dan nutrisi berasal dari uri masuk ke tubuh melalui vena umbilikalis, melalui ductus venosus arantii sebagian besar darah tersebut mengalir ke vena cava inferior lalu masuk ke atrium kiri melalui foramen ovale, Dari atrium kiri menuju ventrikel kiri kemudian dipompakan ke aorta, hanya sebagian kecil darah dari atrium kanan mengalir ke vena cava superior, karena tekanan paru-paru yang belum berkembang, darah dari ventrikel kanan yang semestinya mengalir ke paru-paru melalui arteri pulmonalis akan mengalir melalui ductus botalli ke aorta, sebagian kecil darah menuju paru-paru kemudian melalui vena pulmonalis ke atrium kiri, dari aorta darah akan mengalir ke seluruh tubuh membawa O2 dan nutrisi, Setelah bayi lahir ia segera menangis dan menghirup udara yang menyebabkan paru-parunya berkembang sehingga ductus botalli,foramen ovale,arteri umblicalis,ductus arantii tidak berfungsi lagi (Prawirohardjo, 1999) .

5.    Menentukan Usia Kehamilan
a)    Metode Kalender
Adalah metode yang seringkali dipergunakan oleh tenaga kesehatan dilapangan perhitungannya sesuai dengan rumus yang rekomendasikan dari Neagle yaitu dihitung dari tanggal haid terakhir hari ditambah 7, bulan ditambah 9/dikurang 3, tahun ditambah 1/tidak.
Contohnya: hari pertama haid normal, 2 Februari (2 bulan); tambahkan angka 7 pada hari dan 9 pada bulan untuk menentukan perkiraan tanggal persalinan, yaitu 9 November (11 bulan) (pada tahun yang sama).
Haid pertama haid normal terakhir, 27 September (9 bulan); tambahkan angka 7 pada hari dan 9 pada bulan untuk menentukan perkiraan tanggal persalinan, yaitu 4 Juli (7 bulan) (pada tahun berikutnya) (Farrer, 2001).
Dibawah ini akan diberikan contoh lain: HPHT Ny. E tgl 23-08-08 datang ke klinik pada tanggal 08-01-09. Berapa usia kehamilannya?
Diket: hari pertama haid terakhir (HPHT) : 23-08-08
                                                                        7-3+1
Jadi hasil taksiran persalinan            (TP) : 30-05-09
Uraiannya ibu datang tanggal : 08-01-09 untuk menentukan umur kehamilan adalah: Jawab: Taksiran Persalinan: 30-05-09 dikurangi tanggal datang: 08-01-09, hasilnya: 22 hari 4 bulan = 19 minggu 1 hari, 39 minggu, 7 hari dikurangi 19 minggu-1 hari = 20 minggu 6 hari jadi usia kehamilan Ny. E adalah 20 minggu lebih 6 hari.
b)    Quickening (goyang anak)
Kadang-kadang riwayat haid tidak pasti, terutama kalau wanita hamil itu tidak ingat tanggalnya, baru saja menghentikan pemakaian kontrasepsi oral atau kehamilan terjadinya sebelumnya haidnya kembali setelah kehamilan sebelumnya. Pada kasus-kasus semacam ini, kita harus menanyakan saat ini merasakan quickening (gerakan anak yang terasa pertama kali) dan kemudian mencatat tanggalnya. Tanggal atau saat quickening kemudian ditambah 5 bulan kalender agar kita dapat memperoleh tanggal perkiraan persalinan (Farrer, 2001). Atau ditambahkan 4,5 bulan dari waktu ibu merasakan gerakan janin hidup “feeling life” (Quickening) (Prawirohardjo, 1999).
c)    Tinggi Fundus
Menentukan umur kehamilan dilihat dari Tinggi Fundus Uteri (TFU) menurut Spiegelberg:
22-28 minggu : 24-25 cm diatas simfisis
28 minggu       : 26,7 cm diatas simfisis
30 minggu       : 29,5-30 cm diatas simfisis
32 minggu       : 29,5-30 cm diatas simfisis
34 minggu       : 31 cm diatas simfisis
36 minggu       : 32 cm diatas simfisis
38 minggu       : 33 cm diatas simfisis
40 minggu       : 37,7 cm diatas simfisis  (Prawirohardjo, 1999)

Tinggi Fundus Berdasarkan Usia Kehamilan

Usia kehamilan
Tinggi Fundus
Dalam cm
Menggunakan penunjuk badan
12 minggu
-
teraba di atas simfisis pubis
16 minggu
-
di tengah antara simfisis pubis dan umbilikus
20 minggu
20 cm (±2 cm)
pada umbilikus
22-27 minggu
usia kehamilan dalam minggu = cm (±2 cm)
-
28 minggu
28 cm (±2cm)
ditengah antara umbilikus dan prosesus sifoideus.
29-35 minggu
usia kehamilan dalam minggu = cm (±2 cm)
-
36 minggu
36 cm (±2 cm)
pada prosesus sifoideus

d)    Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan sinar X akan memperlihatkan osifikasi berbagai bagian skeleton janin dari sejak usia kehamilan 16 minggu. Namun demikian, pemeriksaan ini hampir tidak penuh dilakukan untuk menilai usia kehamilan mengingat bahaya yang ditimbulkannya (Farrer, 2001).
e)    Pemeriksaan USG
Kantong janin dapat dilihat pada usia kehamilan 6-7 minggu dan kepala janin dapat diukur pada usia 13 minggu dengan menggunakan USG (pemantulan gelombang suara frekuensi tinggi dengan panjang gelombang yang pendek). Pemeriksaan USG kini sudah menggantikan peranan sinar X dalam menilai maturitas janin (Farrer, 2001).










BAB III
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
Dengan memahami proses adapatasi yang terjadi pada ibu hamil kami dapat menentukan apa asuhan yang harus diberikan kepada ibu hamil sesuai dengan indikasi yang dialami oleh ibu hamil sendiri. Dan dengan berbagai metode pemeriksaan yang digunakan kami juga dapat menentukan apa tindakan yang harus dilakukan selama masa kehamilan.

B.   SARAN
1.    Memberikan pemahaman yang benar kepada ibu hamil dalam mengalami adaptasi
2.    Memberikan penkes kepada ibu hamil mengenai apa yang dibutuhkan selama masa kehamilan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar