BAB
II
PEMBAHASAN
CARA
PERPINDAHAN CAIRAN TUBUH
1.
Difusi
Difusi merupakan bercampurnya
molekul-molekul dalam cairan, gas, atau zat pada secara bebas atau acak. Proses
difusi dapat terjadi bila dua zat bercampur dalam membran. Dalam tubuh, proses
difusi air, elektrolit, dan zat-zat lain terjaid melalui membrane kapiler yang
permeable. Kecepatan proses difusi bervariasi bergantung pada faktor ukuran
molekul, konsentrasi cairan, dan temperature cairan.
Zat dengan molekul yang besar akan
begerak lambat dibandingkan molekul kecil. Molekul akan lebih mudah berpindah
dari larutan berkonsentrasi tinggi ke larutan berkonsentrasi rendah. Larutan
dengan konsetrasi yang tinggu akan mempercepat pergerakan molekul, sehingga
proses difusi berjalan lebih cepat.
2.
Osmosis
Osmosis adalah proses perpindahan
pelarut murni (seperti air) molekul semipermeable, biasanya terjadi dari
larutan dengan konsentrasi yang kurang pekat ke larutan dengan konsentrasi yang
lebih pekat, sehingga larutan yang berkosentrasi rendah volumenya akan
berkurang. Sedangkan larutan yang berkonsentrasi lebih tinggi akan bertambah
volumenya. Solute adalah zat terlarut, sedangkan solvent adalah pelarutnya.
Garam adalah solute, sedangkan air merupakan solvent. Proses osmosis ini penting
dalam penganturan keseimbangan cairan ekstra dan intrasel. Osmolaritas adalah
cara untuk mengukuran kepekatan larutan dengan mengggunakan satuan mol.
Natrium dalam NaCI berperan berperan
penting dalam penganturan keseimbangan cairan dalam tubuh. Apabila ada tiga
jenis larutan garam dengan kepekatan yang berbeda dan di dalamnya dimasukan sel
darah merah, maka larutan yang mempunyai kepekatan sama dengan sel tersebut
yang akan seimbang dan berdifusi terlebih dahulu. Larutan isotonik merupakan
larutan yang mempunyai kepekatan sama dengan larutan yang bercampur. Larutan
NaCl 0,9% merupakan larutan yang isotonik karena larutan tersebut mempunyai
kepekatan yang sama dengan larutan dalam sistem vaskuler. Larutan hipotonik
mempunyai kepekatan kebuh rendah dibandingkan dengan larutan intrasel.
3.
Transport aktif
Proses perpindahan cairan tubuh dapat
menggunakan mekanisme transport aktif. Transport aktif merupakan gerakan zat
yang akan berdifusi dan berosmosis yang
memerlukan aktivitas metabolic dan pengeluaran energi untuk menggerakan
berbagai materi guna menembus membran (Potter, 1997). Proses ini dapat
menerima/ memindahkan molekul dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi.
Proses ini penting untuk pertahan natrium dalam cairan intra dan ekstrasel.
Sebagai contoh natrium dan kalium, di mana natrium dipompa keluar sel dan
kalium dipompa masuk di dalam sel.
Ø Faktor
yang Berpengaruhi dalam Pengatur Cairan
Proses
pengaturan cairan dipengaruhi oleh dua faktor yakni tekanan cairan dan membran
semipermeabel.
1. Tekanan
cairan. Proses difusi
dan osmosis melibatkan adanya tekanan cairan. Dalam proses osmosis, tekanan
osmotik merupakan kemampuan pertikel pelarut untuk menarik larutan melaui
membrane. Bila terdapat 2 larutan dengan perbedaan kosentrasi maka larutan yang
konstrasi molekulnya lebih pekat dan tidak dapat bergabung disebut koloid.
Sedangkan larutan dengan kepekatan yang sama dan dapat bergabung, maka larutan
itu disebut Kristaloid. Sebagai contoh, koloid adalah apabila protein bercampur
dengan plasma, sedangkan larutan kristaloid adalah larutan garam. Secara
normal, perpindahan cairan menembus membrane sel permeabel tidak terjadi.
Prinsip tekanan osmotik ini sangat penting dalam proses pemberian cairan
intravena. Biasanya larutan yang sering digunakan dalam pemberian infus
intravena bersifat isotonik karena mempunyai konsentrasi yang sama dengan
plasma darah. Hal ini penting untuk mencegah perpindahan cairan dan elektrolit
ke dalam intrasel. Larutan intravena yang hipotonik, yaitu larutan yang
mempunyai konsentrasi kurang pekat dibanding dengan konsentrasi plasma darah.
Hal ini menyebabkan, tekanan osmotik plasma akan lebih besar dibandingan dengan
takan osmotik cairan interstisial kareana konsentrasi protein dalam plasma
lebih besar dibanding cairan interstisial dan molekul protein lebih besar,
sehingga membentuk larutan koloid dan sulit menembus membran semipermiabel.
Tekanan hidrostatik adalah kemampuan
tiap molekul larutan yang bergerak dalam ruang tertutup. Hal ini penting untuk
pengaturan keseimbangan cairan ekstra dan intrasel.
2. Membran
semipermiabel
merupakan penyaring agar cairan yang bermolekul besar tidak tergabung. Membran
semipermiabel ini terdapat pada dinding kapiler pembuluh darah, yang terdapat
diseluruh tubuh sehingga molekul atau zat lain tidak berpindah ke jaringan.
Ø Jenis
cairan
1. Cairan
zat gizi (nutrient)
pasien
yang istirahat ditempat tidur memerluka kalori 450 kalori setiap hari. Cairan
nutrient dapat diberikan melalui intravena dalam bentuk karbohidrat, nitrogen,
dan vitamin untuk metabolisme. Kalori yang terdapat dalam cairan nutrien dapat
berkisar antara 200-1500 kalori per liter. Cairan nutrien terdiri atas :
a.
Karbohidrat
dan air, contoh : dekstrosa (glukosa), levulosa (fruktusa), serta invert sugar
( ½ dekstrosa dan ½ levulosa).
b.
Asam
amino, contoh : amigen, aminosol, dan travamin.
c.
Lemak,
contoh : lipomul dan liposyn.
2.
Blood
volume expanders
Blood vulome expanders merupakan jenis cairan yang berfungsi
meningkatan volume darah sesudah kehilangan darah atau plasma. Hal ini terjadi
pada saat pasien mengalami pendarahan berat, maka pemberian plasma akan
mempertahankan jumlah volume darah. Pada pasien dengan luka bakar yang berat,
sebagian besar cairan akan hilang dari pembuluh darah didaerah luka. Plasma
sngat perlu diberikan untuk mengantikan cairan ini. Jenis blood volume expanders antara lain : human serum albumin dan dextran
dengan kosentrasi yang berbeda. Kedua cairan ini mempunyai tekanam osmotik,
sehingga secara langsung dapat meningkatkan jumlah voleme darah.
Ø Gangguan/Masalah
dalam Pemenuhan Kebutuhan Cairan
1. Hipovolume
atau dehidrasi
Kekurangan
cairan eksternal dapat terjadi karrana penurunan asupan caiarn dan kelebihan
pengeluarana cairan. Tubuh akan merespon kekurangancairan tubuh dengan
mengosongkan cairan vaskular. Sebagai kompensasi akibat penurunan cairan
interstisial, tubuh akan mengalirkan cairan keluar sel. Pengosongan cairan ini
terjadi pada pasien diare dan muntah. Ada tiga macam kekurangan volume cairan
eksternal atau dehidrasi, yaitu:
a.
Dehidrasi
isotonik, terjadi kehilangan sejumlah cairan dan elektrolitnya yang seimbang.
b.
Dehidrasi
hipertonik, terjadi kehilangan sejumlah air yang lebih banyak daripada
elektrolitnya.
c.
Dehidrasi
hipotonik, terjadi jika tubuh lebih banyka kehilangan eletrilitnya daripada
air.
Kehilangan cairan ekstrasel yang
berlebihan akan menyebabkan volume ekstrasel berkurang (hipovolume). Pada
keadaan ini, tidak terjadi perpindahan cairan daerah intrasel mke permukaan,
sebab osmolaritasnya sama. Jika terjadi kekurangan cairan ekstrasel dalam waktu
yang lama, maka kadar urea, nitrogen serta kreatinin akan meningkat dan
meyebabkan terjadonya perpindahan cairan intrasel ke pembuluh darah. Kekurangan
cairan dalam tubuh dapat terjadi secara lambat atau cepat dan tidak selalu
cepat diketahui. Kelebihan asupan pelarut seperti protein dan klorida/natrium
akan mnyebabkan ekskresi atau pengeluaran urinesecara berlebih, serta
berkeringat banyak dalam waktu yang lam dan terus menerus. Kelainan lain yang
menyebabkan kelebihan pengeluaran urine adalah ganguuan hipotalamus, kelenjar
gondok dan ginjal, diare, muntah yang terus-menerus, terpasang draginage, dan lain-lain.
Macam dehidrasi (kurang volume cairan)
berdasarkan derajatnya :
a.
Dehidrasi
berat
1)
Pengeluaran/kehilangan
cairan 4-6 L.
2)
Serum
natrium 159-166 mEq/L.
3)
Hipotensi.
4)
Turgor
kulit buruk.
5)
Oliguria.
6)
Nadi
dan pernapasan meningkat.
7)
Kehilangan
caiaran mencapai >10% BB.
b.
Dehidrasi
sedang
1)
Kehilangan
cairan 2-4 L atau antara 5-10% BB.
2)
Serum
natrium 152-158 mEq/L.
3)
Mata
cekung.
c.
Dehidrasi
ringan, dengan terjadinya kehilangan cairan mencapai 5% BB atau 1,5-2 L.
2. Hipervolume
atau overhidrasi
Terdapat
dua manifestasi atau ditimbulkan akibat kelebihan cairan yaitu hipervolume
(peningkatan volume darah) ada edema (kelebihan cairan pada interstisial). Normal cairan interstisialtidak teringkat dengan air, tetapi elastis dan hanya terdapat di antara jaringan. Keadaan hipervolume dapat menyebabkan pitting edema, merupakan edema yang berada pada darah perifer atau akan mnecekung setelah ditekan pada daerah yang bengkak. Hal ini disebabkan karena perpindahan cairan ke jaringan melalui titik tekanan. Cairan dalam jaringan yang edema tidak digerakan ke permukaan lain dengan penekanan jari. Nonpitting edema tidak menunjukan tanda kelebihan cairan ekstrasel, tetapi sering karena infeksi dan trauma yang menyebabkan pengumpulan membekunya cairan pada permukaan jaringan. Kelebihan cairan vaskuler dapat meningkatkan hidrostastik cairajan akan menekan caiara ke permukaan interstisial, sehingga akan menyebabkab edema anarka (edma yang terdapar di seluruh tubuh).
(peningkatan volume darah) ada edema (kelebihan cairan pada interstisial). Normal cairan interstisialtidak teringkat dengan air, tetapi elastis dan hanya terdapat di antara jaringan. Keadaan hipervolume dapat menyebabkan pitting edema, merupakan edema yang berada pada darah perifer atau akan mnecekung setelah ditekan pada daerah yang bengkak. Hal ini disebabkan karena perpindahan cairan ke jaringan melalui titik tekanan. Cairan dalam jaringan yang edema tidak digerakan ke permukaan lain dengan penekanan jari. Nonpitting edema tidak menunjukan tanda kelebihan cairan ekstrasel, tetapi sering karena infeksi dan trauma yang menyebabkan pengumpulan membekunya cairan pada permukaan jaringan. Kelebihan cairan vaskuler dapat meningkatkan hidrostastik cairajan akan menekan caiara ke permukaan interstisial, sehingga akan menyebabkab edema anarka (edma yang terdapar di seluruh tubuh).
Peningkatan tekanan hidrostastik yang
besar dapat menekan sejumlah cairan hingga ke membrane kapiler paru-paru,
sehingga menyebakan edema paru-paru dan dapat memnyebabkan kematian.
Manifestasi esema paru-paru adalah penumpukan sputum, dispnea, batuk, dan suara
ronkhi. Keadaan edema ini desebabkan oleh gagal jantung yang mengakibatkan
peningkatan penekan pada kapiler darah paru-paru dan perpindahan cairan ke
jaringan paru-paru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar