Sabtu, 07 Oktober 2017

MAKALAH CARA PERPINDAHAN CAIRAN



BAB II
PEMBAHASAN

CARA PERPINDAHAN CAIRAN TUBUH

1.    Difusi
Difusi merupakan bercampurnya molekul-molekul dalam cairan, gas, atau zat pada secara bebas atau acak. Proses difusi dapat terjadi bila dua zat bercampur dalam membran. Dalam tubuh, proses difusi air, elektrolit, dan zat-zat lain terjaid melalui membrane kapiler yang permeable. Kecepatan proses difusi bervariasi bergantung pada faktor ukuran molekul, konsentrasi cairan, dan temperature cairan.
Zat dengan molekul yang besar akan begerak lambat dibandingkan molekul kecil. Molekul akan lebih mudah berpindah dari larutan berkonsentrasi tinggi ke larutan berkonsentrasi rendah. Larutan dengan konsetrasi yang tinggu akan mempercepat pergerakan molekul, sehingga proses difusi berjalan lebih cepat.

2.    Osmosis
Osmosis adalah proses perpindahan pelarut murni (seperti air) molekul semipermeable, biasanya terjadi dari larutan dengan konsentrasi yang kurang pekat ke larutan dengan konsentrasi yang lebih pekat, sehingga larutan yang berkosentrasi rendah volumenya akan berkurang. Sedangkan larutan yang berkonsentrasi lebih tinggi akan bertambah volumenya. Solute adalah zat terlarut, sedangkan solvent adalah pelarutnya. Garam adalah solute, sedangkan air merupakan solvent. Proses osmosis ini penting dalam penganturan keseimbangan cairan ekstra dan intrasel. Osmolaritas adalah cara untuk mengukuran kepekatan larutan dengan mengggunakan satuan mol.
Natrium dalam NaCI berperan berperan penting dalam penganturan keseimbangan cairan dalam tubuh. Apabila ada tiga jenis larutan garam dengan kepekatan yang berbeda dan di dalamnya dimasukan sel darah merah, maka larutan yang mempunyai kepekatan sama dengan sel tersebut yang akan seimbang dan berdifusi terlebih dahulu. Larutan isotonik merupakan larutan yang mempunyai kepekatan sama dengan larutan yang bercampur. Larutan NaCl 0,9% merupakan larutan yang isotonik karena larutan tersebut mempunyai kepekatan yang sama dengan larutan dalam sistem vaskuler. Larutan hipotonik mempunyai kepekatan kebuh rendah dibandingkan dengan larutan intrasel.

3.    Transport aktif
Proses perpindahan cairan tubuh dapat menggunakan mekanisme transport aktif. Transport aktif merupakan gerakan zat yang akan  berdifusi dan berosmosis yang memerlukan aktivitas metabolic dan pengeluaran energi untuk menggerakan berbagai materi guna menembus membran (Potter, 1997). Proses ini dapat menerima/ memindahkan molekul dari konsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi. Proses ini penting untuk pertahan natrium dalam cairan intra dan ekstrasel. Sebagai contoh natrium dan kalium, di mana natrium dipompa keluar sel dan kalium dipompa masuk di dalam sel.

Ø  Faktor yang Berpengaruhi dalam Pengatur Cairan
Proses pengaturan cairan dipengaruhi oleh dua faktor yakni tekanan cairan dan membran semipermeabel.
1.    Tekanan cairan. Proses difusi dan osmosis melibatkan adanya tekanan cairan. Dalam proses osmosis, tekanan osmotik merupakan kemampuan pertikel pelarut untuk menarik larutan melaui membrane. Bila terdapat 2 larutan dengan perbedaan kosentrasi maka larutan yang konstrasi molekulnya lebih pekat dan tidak dapat bergabung disebut koloid. Sedangkan larutan dengan kepekatan yang sama dan dapat bergabung, maka larutan itu disebut Kristaloid. Sebagai contoh, koloid adalah apabila protein bercampur dengan plasma, sedangkan larutan kristaloid adalah larutan garam. Secara normal, perpindahan cairan menembus membrane sel permeabel tidak terjadi. Prinsip tekanan osmotik ini sangat penting dalam proses pemberian cairan intravena. Biasanya larutan yang sering digunakan dalam pemberian infus intravena bersifat isotonik karena mempunyai konsentrasi yang sama dengan plasma darah. Hal ini penting untuk mencegah perpindahan cairan dan elektrolit ke dalam intrasel. Larutan intravena yang hipotonik, yaitu larutan yang mempunyai konsentrasi kurang pekat dibanding dengan konsentrasi plasma darah. Hal ini menyebabkan, tekanan osmotik plasma akan lebih besar dibandingan dengan takan osmotik cairan interstisial kareana konsentrasi protein dalam plasma lebih besar dibanding cairan interstisial dan molekul protein lebih besar, sehingga membentuk larutan koloid dan sulit menembus membran semipermiabel.
Tekanan hidrostatik adalah kemampuan tiap molekul larutan yang bergerak dalam ruang tertutup. Hal ini penting untuk pengaturan keseimbangan cairan ekstra dan intrasel.
2.    Membran semipermiabel merupakan penyaring agar cairan yang bermolekul besar tidak tergabung. Membran semipermiabel ini terdapat pada dinding kapiler pembuluh darah, yang terdapat diseluruh tubuh sehingga molekul atau zat lain tidak berpindah ke jaringan.

Ø  Jenis cairan
1.    Cairan zat gizi (nutrient)
pasien yang istirahat ditempat tidur memerluka kalori 450 kalori setiap hari. Cairan nutrient dapat diberikan melalui intravena dalam bentuk karbohidrat, nitrogen, dan vitamin untuk metabolisme. Kalori yang terdapat dalam cairan nutrien dapat berkisar antara 200-1500 kalori per liter. Cairan nutrien terdiri atas :
a.    Karbohidrat dan air, contoh : dekstrosa (glukosa), levulosa (fruktusa), serta invert sugar ( ½  dekstrosa dan ½ levulosa).
b.    Asam amino, contoh : amigen, aminosol, dan travamin.
c.    Lemak, contoh : lipomul dan liposyn.

2.    Blood volume expanders
Blood vulome expanders merupakan jenis cairan yang berfungsi meningkatan volume darah sesudah kehilangan darah atau plasma. Hal ini terjadi pada saat pasien mengalami pendarahan berat, maka pemberian plasma akan mempertahankan jumlah volume darah. Pada pasien dengan luka bakar yang berat, sebagian besar cairan akan hilang dari pembuluh darah didaerah luka. Plasma sngat perlu diberikan untuk mengantikan cairan ini. Jenis blood volume expanders antara lain : human serum albumin dan dextran dengan kosentrasi yang berbeda. Kedua cairan ini mempunyai tekanam osmotik, sehingga secara langsung dapat meningkatkan jumlah voleme darah.

Ø  Gangguan/Masalah dalam Pemenuhan Kebutuhan Cairan
1.    Hipovolume atau dehidrasi
Kekurangan cairan eksternal dapat terjadi karrana penurunan asupan caiarn dan kelebihan pengeluarana cairan. Tubuh akan merespon kekurangancairan tubuh dengan mengosongkan cairan vaskular. Sebagai kompensasi akibat penurunan cairan interstisial, tubuh akan mengalirkan cairan keluar sel. Pengosongan cairan ini terjadi pada pasien diare dan muntah. Ada tiga macam kekurangan volume cairan eksternal atau dehidrasi, yaitu:
a.    Dehidrasi isotonik, terjadi kehilangan sejumlah cairan dan elektrolitnya yang seimbang.
b.    Dehidrasi hipertonik, terjadi kehilangan sejumlah air yang lebih banyak daripada elektrolitnya.
c.    Dehidrasi hipotonik, terjadi jika tubuh lebih banyka kehilangan eletrilitnya daripada air.
Kehilangan cairan ekstrasel yang berlebihan akan menyebabkan volume ekstrasel berkurang (hipovolume). Pada keadaan ini, tidak terjadi perpindahan cairan daerah intrasel mke permukaan, sebab osmolaritasnya sama. Jika terjadi kekurangan cairan ekstrasel dalam waktu yang lama, maka kadar urea, nitrogen serta kreatinin akan meningkat dan meyebabkan terjadonya perpindahan cairan intrasel ke pembuluh darah. Kekurangan cairan dalam tubuh dapat terjadi secara lambat atau cepat dan tidak selalu cepat diketahui. Kelebihan asupan pelarut seperti protein dan klorida/natrium akan mnyebabkan ekskresi atau pengeluaran urinesecara berlebih, serta berkeringat banyak dalam waktu yang lam dan terus menerus. Kelainan lain yang menyebabkan kelebihan pengeluaran urine adalah ganguuan hipotalamus, kelenjar gondok dan ginjal, diare, muntah yang terus-menerus, terpasang draginage, dan lain-lain.
Macam dehidrasi (kurang volume cairan) berdasarkan derajatnya :
a.    Dehidrasi berat
1)    Pengeluaran/kehilangan cairan 4-6 L.
2)    Serum natrium 159-166 mEq/L.
3)    Hipotensi.
4)    Turgor kulit buruk.
5)    Oliguria.
6)    Nadi dan pernapasan meningkat.
7)    Kehilangan caiaran mencapai >10% BB.
b.    Dehidrasi sedang
1)    Kehilangan cairan 2-4 L atau antara 5-10% BB.
2)    Serum natrium 152-158 mEq/L.
3)    Mata cekung.
c.    Dehidrasi ringan, dengan terjadinya kehilangan cairan mencapai 5% BB atau 1,5-2 L.

2.    Hipervolume atau overhidrasi
Terdapat dua manifestasi atau ditimbulkan akibat kelebihan cairan yaitu hipervolume
(peningkatan volume darah) ada edema (kelebihan cairan pada interstisial). Normal cairan interstisialtidak teringkat dengan air, tetapi elastis dan hanya terdapat di antara jaringan. Keadaan hipervolume dapat menyebabkan pitting edema, merupakan edema yang berada pada darah perifer atau akan mnecekung setelah ditekan pada daerah yang bengkak. Hal ini disebabkan karena perpindahan cairan ke jaringan melalui titik tekanan. Cairan dalam jaringan yang edema tidak digerakan ke permukaan lain dengan penekanan jari. Nonpitting edema tidak menunjukan tanda kelebihan cairan ekstrasel, tetapi sering karena infeksi dan trauma yang menyebabkan pengumpulan membekunya cairan pada permukaan jaringan. Kelebihan cairan vaskuler dapat meningkatkan hidrostastik cairajan akan menekan caiara ke permukaan interstisial, sehingga akan menyebabkab edema anarka (edma yang terdapar di seluruh tubuh).
      Peningkatan tekanan hidrostastik yang besar dapat menekan sejumlah cairan hingga ke membrane kapiler paru-paru, sehingga menyebakan edema paru-paru dan dapat memnyebabkan kematian. Manifestasi esema paru-paru adalah penumpukan sputum, dispnea, batuk, dan suara ronkhi. Keadaan edema ini desebabkan oleh gagal jantung yang mengakibatkan peningkatan penekan pada kapiler darah paru-paru dan perpindahan cairan ke jaringan paru-paru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar